Selasa, 08 Februari 2011

sejarah kristen masuk minahasa

SEJARAH KRISTEN MASUK MINAHASA
(di dalamnya ada keterlibatan dotu/opo Sumanti yg pertama kali di baptis di tondano)

Sekitar tahun 1812, pada masa pemerintahan Inggris (1810-1817), 2 tahun sesudah Perang Minahasa di Tondano,  Pemerintah mengadakan penataan  kota Tondano dengan membuat jalan-jalan di kota Tondano, yang memanjang dari Utara ke Selatan dan jalan-jalan melintang dari Timur ke Barat.  Jalan-jalan ini  pula yang menjadi batas antar Kampung (Kelurahan) sampai sekarang.  Penduduk sudah mulai teratur pemukimannya dan khusus dalam Wilayah pelayanan Jemaat Sion (yang dalam tulisan ini disebut Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”)  terdiri dalam  territorial  Kampung Kelurahan Kendis, Wengkol, Ranowangko dan Luaan, yang pada waktu itu sudah banyak pemukimnya.
Pada tahun 1817, Pemerintahan diserahkan lagi kepada Pemerintah Belanda dimulailah pada saat itu pemerintah Belanda mengangkat Kepala-kepala Walak yang tunduk kepada Belanda. Kepala-kepala walak ini diberi wewenang  membentuk kelompok-kelompok penduduk dalam suatu pemukiman (koloni/kampung) dan membuka areal-areal hutan menjadi tempat berkebun Mereka diwajibkan menanam tanaman (kopi) seperti di areal perkebunan Sisipen, disamping tetap mengerjakan/mengolah sawah sebagai sumber beras untuk bahan makanan.
Pada tahun 1825, didatangkanlah dari Pulau Jawa rombongan Kyai Mojo berjumlah 63 orang (buangan oleh Pemerintah Belanda), dan ditempatkan disuatu areal yang diapit  dan berbatasan sebelah Utara dengan Desa Tonsea Lama, Sebelah Timur dengan Kelurahan Wulauan , Sebelah Barat Kampung/Kelurahan Luaan sebelah Selatan dengan Kampung Kelurahan Ranowangko.
Pada tahun 1829, wilayah pemerintahan kota Tondano   dibagi dua dari Utara ke Selatan:  Sebelah Timur dengan nama Distrik Toulimambot dan sebelah Barat dengan nama Distrik Touliang, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Walak (Kumbasar). Kepala-kepala walak itu membawahi Kepala-kepala kampung (Desa/Kelurahan) yang disebut Ukung tu’a (Kuntua sekarang Lurah) termasuk 4 Kampung (Kelurahan) yang didiami oleh Anggota Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”.  Keyakinan penduduk  tentang kuasa Allah, sudah nampak dalam kebiasaan serta adat istiadat dalam kehidupan masyarakat yang ditandai dengan yang mereka lakukan seperti antara lain :
Setiap ada niat, maksud dan rencana perombakan hutan, pembukaan tanah garapan untuk bercocok tanam, panenan, membangun rumah, naik rumah baru, (sumolo/ pemasangan lampu), merantau  menikahkan anak,melahirkan anak dan acara-acara tradisional dan lain-lainnya, diawali dengan memohon  petunjuk OPO EMPUNG, yang dianggap/diyakini dan disembah sebagai penguasa alam semesta  dan segala isinya dengan tanda suara burung Loyot (burung Manguni) sebagai bukti perkenanan TUHAN atas rencana permohonannya (band. Kisah 17:23).
Khusus  penduduk di wilayah Jemaat SION “TEMPO DOLEOE”,  pada masa itu menurut  silsilah keluarga yang lahir pada tahun 1800-an, ada yang diberi nama: LUKAS, SIMON, NICODEMUS, ESTEFANUS dll. Nama-nama  yang dikutip  dari kitab Injil sudah diadopsi oleh masyarakat sebagai pengaruh atas suatu misi  Gereja Katolik  pada tahun 1568 di Minahasa oleh Pater Diego Magelhais.  Kemudian berturut-turut pada tahun 1660 penjajah Spanyol dan Portugis diusir oleh bakal penjajah Belanda.  Karena penjajah Belanda ini beragama Kristen Protestan maka dibawalah Pendeta-pendeta Kristen Protestan yang melayani tentara-tentara Belanda masuk di Minahasa.   Pada tahun 1700 tercatat sudah ada ± 25.000 orang Kristen yang tersebar dipesisir pantai Minahasa. Oleh karena itu tidak heran kalau 2 tahun sesudah Perang di Minahasa di Tondano ( 1808-1809), setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Belanda kepada Inggris dilakukanlah pembaharuan perjanjian yang dibuat pada tanggal 14 September 1810, tersirat bahwa orang-orang Tondano yang sedang berperang melawan Kompeni Inggris telah memiliki pemahaman religi yang bernafaskan Injil seperti nyata dalam pasal 10 perjanjian Minhasa Inggris yang terjemahannya  sebagai berikut :
Kami, Kepala Walak dan Ukung Manado (Minahasa), bersumpah dan berjanji bahwa kami tak akan berbuat dosa lagi dengan cara melakukan penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan. Karena dngan demikian, murka Allah akan berlaku atas kami .(Sejarah Perang Minahasa di Tondano : Lembaga Penelitian Sejarah)
Pada tahun 1817 seorang pekabar Injil  bernama Josef Kam (disebut Rasul Maluku)  datang melihat  keadaan  Jemaat Kristen di Minahasa. Jumlah anggota tinggal ± 3000 orang. Karena tidak ada pelayanan. Kemudian Pendeta Josef Kam  (satu-satunya pendeta Gereja Protestan di Indonesia Timur  dan memiliki  jiwa zendeling) menyurat  dan meminta kepada Badan Pekabaran Injil di Belanda yakni NZG agar mengirimkan utusan-utusan  penginjil di Minahasa. Pada  waktu Ds. G.J. Hellendoom  bertugas sebagai  pendeta  di Manado (mulai tahun 1827)   setelah  mengadakan perjalanan ke pedalaman , ia  mendesak  Pengurus NZG  agar mengirim utusan-utusan Injil ke Minahasa, sehingga ia dijuluki Gronlegger van Zendeling in de Minahasa ( Peletak  dasar kegiatan pekabaran Injili di Minahasa). Atas petunjuk  Ds. G.J. Hellendoom , maka  pada waktu Pdt.Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz tiba di Manado dari Ambon pada tanggal 12 Juni 1831, Riedel dan Schwarz sebagai zendeling yang pertama masuk di Minahasa  kemudian ditempatkan di Tondano (Riedel) dan Langoan (Schwarz).


Setelah selama ±4 bulan  Pdt.Johann Friedrich Riedel di Manado dengan mempelajari bahasa, watak, adat istiadat dan kebudayaan orang-orang Tondano, maka pada tanggal 14 Oktober 1831, barulah ia datang di Tondano. Ia lebih memperdalam bahasa Tondano dengan mengintegrasikan dirinya dalam pergaulan dengan masyarakat.   Ada sekitar  ± 100 orang yang telah mengenal kekristenan  walaupun pemahaman mereka  masih sangat kurang. Karena itu usaha pertama Riedel dalam kegiatan penginjilan  dengan memberi perhatian pada sekolah yang sudah ada  serta mengadakan pendekatan dengan penduduk mengenai kehidupan sesehari serta perkunjungan rumah tangga. Perhatian Riedel  terhadap orang-orang sakitpun sangat  besar. Pendekatan terhadap masyarakat  Tondano ditopang  oleh isterinya yang sangat berperan  dalam menciptakan suasana yang sangat bersahabat apabila ada percakapan-percakapan dengan penduduk di rumah tempat tinggal Riedel.   Kegiatan selanjutnya  adalah mengupayakan pendidikan bagi tenaga-tenaga pribumi untuk menyebar-luaskan kepercayaan “kekristenan  dalam hati” (paham pietisme),  dan memberi ruang bagi bertumbuhnya  kehidupan gerejawi  bergaya Minahasa. Salah satu pokok penting  tentang pelaksanaan baptisan agar jangan dilakukan  secara terburu-buru. Ketulusan keyakinan seseorang calon baptisan harus menjadi kriteria utama bagi pembaptisannya.  Dilakukannya demikian  setelah ia mempelajari  daftar baptisan di Tondano dari abad ke 18 dan sangat terkejut setelah membaca tentang baptisan masal yang pernah dilaksanakan tanpa persiapan  dan ujian. Sedangkan pandangannya tentang baptisan adalah: “Siapa  yang mau menjadi Kristen  tidak boleh bermaksud lain selain mencari keselamatan jiwanya; Ia harus meninggalkan kepercayaan dan kebiasaan agama suku (alifuru); Ia harus mengaku percaya kepada Allah yang benar dan Esa dan kepada Yesus Kristus Anak-Nya Sang Penebus; Ia harus berjanji akan hidup selaku orang Kristen  sebagai ungkapan syukur atas anugerah-Nya. “Melalui pendekatan rangkap (pendidikan dan pengajaran Kristen) Riedel menyatukan diri dan keluarganya dengan masyarakat  yang ada di Tondano. Perkembangan  orang Kristen  di Tondano meningkat setelah dibaptisnya seorang tokoh agama suku (walian) pada tahun 1834, sehingga sesudah  Riedel bekerja melayani  selama 8 tahun  maka pada tahun 1839, didirikanlah bangunan Gereja (dikompleks Gereja Sentrum sekarang) dengan 800 tempat duduk. Bersamaan dengan itu didirikan pula tempat-tempat pertemuan/tempat beribadah di sore hari. Dengan cara pendekatan yang dilakukannya berbuah yang sangat mengherankan sehingga pada tahun 1850, penduduk Tondano yang dibaptis mencapai 70%.
Ada cerita tentang pertemuan pertama  Pdt. Riedel  pada saat  berkunjung di tempat kediaman Walian tersebut (Dotu Sumanti) berupa rumah panggung yang terletak  dikintal Puterpra dulu  di Kelurahan Kendis. Setelah tiba dimuka rumah Sumanti, ia memanggil si Walian dan terjadilah dialog sbb :
Riedel   :  O  patuariku Sumanti  ko manakan ? ( Hai saudaraku Sumanti  apakah engkau  ada ?)
Walian   :  Patuariku  wisa ko, ko  kulo’ (Saudaraku dari mana kamu,, kulitmu putih)
Riedel    :   Penampa’an’ku  waki katerungan di êndo. Ni’itu mou ku kulo’  Ku nêi  rêomi  ni Telu matuari, si siminalar  kaoatan  yê’i,  nêi sêron si patuarimu Sumanti  waki Toudano. (  Saya berasal  di tempat yang terlindung cahaya matahari.Saya disuruh/diperintahkan oleh  Allah Tritungga , untuk datang cari /menemui saudaramu Sumanti di Tondano.)
Walian   :   Em,  sa tuana lumongkoti (sambil menurunkan tangga). ( Em, kalau demikian, silahkan naik)
Riedel    :   (Riedel kemudian naik kerumah  panggung  itu)
Walian   :   Rumuber,  tumenga’  (Silahkan duduk,  silahkan makan pinang) 
Riedel kemudian duduk dan menerima tawaran Walian Sumanti untuk  mengunyah pinang.  Setelah itu terjalinlah hubungan antara mereka sehingga memudahkan Riedel untuk menjelaskan tentang siapa Allah Tritunggal itu.
Dalam waktu yang singkat, Dotu Sumanti bersama 6 (enam)  orang pembantunya menerima untuk dibaptiskan di kali kecil di belakang Kantor PLN Ranting Tondano sekarang. (Dituturkan oleh Bapak Willy Wakary)
Selama hampir 30 tahun Riedel bekerja di Minahasa berpusat di Tondano telah membaptis 9341 orang dan menerima/meneguhkan sebanyak 3851 anggota menjadi sidi jemaat. Dalam pelayanan Riedel juga dibantu oleh para saksi baptisan yang turut mengambil alih tugas pengajaran dan bimbingan kepada para calon baptisan. Tradisi saksi baptisan  dibawa Riedel dari Gereja di Jerman, dan pengajaran baptisan  dilaksanakan dalam “kampongan” yaitu ibadah  yang dilaksanakan dengan membentuk kelompok-kelompok katekhisasi baptisan  dan pengajaran sidi.  Baptisan dan Perjamuan Kudus ( 2 jenis sakramen yang diakui oleh Gereja Protestan) dipisahkan. Mereka yang telah dibaptis dan menjadi calon anggota sidi jemaat, harus tambah belajar dengan memperdalam pemahaman tentang ajaran-ajaran dalam Alkitab, agar supaya pengakuannya lebih teliti,  mendalam dan mendasar.  Perjamuan Kudus yang dilaksanakan oleh Riedel pada masa itu tidak lebih dari 2 kali dalam setahun. Karena keseriusannya tentang Perjamuan Kudus  ia menekankan : “ Dengan takut dan gentar, dengan mencucurkan air mata dalam ketakutan bahwa siapa yang minum dan makan dengan tidak berlayak akan memberatkan hukuman .”
Methode pelayanan Riedel menempatkan pengajaran sebagai misi utama, sehingga ketika Riedel tiba di Tondano baru terdapat 4 sekolah di wilayah kerjanya, setelah dua puluh satu tahun kemudian (1852) sudah ada 16 sekolah dengan sekitar 1500 murid. Bagi setiap orang yang meminta dibaptis  berlaku syarat sebagai berikut  :
  1. Kalau ia tidak terlalu tua, ia harus tahu membaca
  2. Ia harus berjanji akan menyekolahkan anaknya
  3. Perkawinannya harus diberkati di gereja

Dalam pelayanan/pemberitaan disampaikan dalam bahasa pribumi. Dalam ibadah Minggu dipergunakan bahasa Melayu, dilanjutkan dengan “salinan”  pada sore hari yaitu khotbah yang diucapkan dalam bahasa Melayu di Gereja (Sentrum sekarang), diulangi dalam bahasa setempat (Tondano) di tempat-tempat  ibadah/pertemuan jemaat., yang kemudian dikembangkan menjadi kelompok belajar Alkitab yaitu pada  hari Senin dan Kamis malam. Walaupun dikemudian hari bahasa Melayu sudah dipakai  oleh masyarakat/jemaat tetapi  ibadah “salinan”  tetap berarti dan dilaksanakan  sampai sekarang.
Pada tahun 1852 Riedel jatuh sakit dan  tidak bekerja lagi sampai ia wafat pada tanggal 12 Oktober 1860 di Tondano dimakamkan di pekuburan umum di Kelurahan Ranowangko Tondano.
Pendeta NZG yang melayani Tondano
­        Pdt. J.F. Riedel   1831 – 1852
­        Pdt  H.W. Nooij   1852 -  1853 (meninggal karena penyalit perut  pada  21/12-1853)
­        Pdt. J.H. Rooker 1854  - 1905
­        Pdt. Langevord   1906 – 1920.

sekian & terimah kasih

(dari RAIN SUMANTI @ grup KELUARGA BESAR SUMANTI on facebook)

4 komentar:

  1. sapa yang da info ato mo ba posting di blog ini , ba bilang jo , nti qta kse dpe password ....
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. qta boleh, postingan di atas itu ada copas qta(Rain Sumanti) p postingan d fb to?

      Hapus
  2. sebelom datang agama kristen, agama apa yang dianut orang Tondano/Minahasa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agama suku.masih banyak unsur mistik.

      Hapus